Selasa, 09 Agustus 2011

majalah

Meskipun pada masa Cina kuno pernah diterbitkan sesuatu yang menyerupai majalah, majalah yang kita kenal saat ini baru ada setelah ditemukannya mesin cetak di Barat. Mula-mula mesin cetak digunakan untuk membuat pamflet, selebaran, buku cerita, dan kalender. Kemudian secara bertahap mesin cetak digunakan untuk mencetak terbitan reguler dengan mengumpulkan berbagai macam bahan yang ditujukan untuk menyuarakan kepentingan masing-masing. Majalah yang paling awal adalah Erbauliche Monaths – Unterredungen (1663 – 1668) diterbitkan oelh Johann Rist, seorang teolog dan penyair dari Hamburg, Jerman.
Dalam bentuk jurnal pendidikan, ringkasan buku-buku baru yang terkenal mulai disampaikan, namun tidak menyangkut buku-buku tentang kesusastraan. Bentukan iklan buku dikenalkan sejak tahun 1650, berupa feature yang muncul secara reguler dan kadang diberi ulasan. Katalog-katalog reguler terbit, seperti Mercurius Librarius atau A Catalogue of Books (1668-1670). Tetapi, selama abad 17 terbitan semacam itu rata-rata berumur pendek.
Jenis majalah yang lebih ringan isinya, atau berkala hiburan, pertama kali terbit pada 1672, yaitu Le Mercure Galant, didirikan oleh seorang penulis, Jean Donneau de Vice. Isinya: kisah-kisah kehidupan, anekdot, dan mutiara hikmah.
Di Inggris, perkembangan majalah ditandai dengan keadaan masyarakat yang kemampuan melek hurufnya telah meningkat ditambah menggejalanya kesadaran masyarakat akan hal-hal baru. Majalah memberi kebutuhan akan hal itu dan menapakkan kemapanan oleh karenanya. Yang lebih khusus lagi, di Inggris, kemapanan penerbitan majalah dipengaruhi oleh tiga essay periodicals, yang ditulis: Daniel Defoe’s the Reviews (1704 -1713); Sir Richard Steele’s the Tatler (1709 – 1711), dan Joseph Addison’s the Spectator (1711 – 1712).
Di awal terbitannya, berbagai majalah didesain hanya untuk kalangan terbatas. Penerbitnya lebih suka disebut pengelola”quality” magazines. Sejak 1830-an, bermunculan majalah-majalah berharga murah, yang ditujukan kepada publik yang lebih luas.
Awalnya berbagai majalah ini menyajikan mater-materi yang bersifat meningkatkan, mencerahkan, dan menghibur keluarga. Tapi, pada akhir abad 18 berkembang majalah-majalah populer yang semata-mata menyajikan hiburan. Di Inggris, Charles Knight menjadi pelopor majalah jenis baru ini. Ia menerbitkan mingguan Penny Magazine (1832 – 1846) dan Penny Cyclopedia (1833 – 1858).
Di samping majalah populer, muncul pula berbagai penerbitan majalah serially yang dipenuhi dengan gambar-gambar ilustrasi. Di AS, sampai tahun 1850, perkembangan itu tidak ditemukan. Yang tercatat mengmbangkan penerbitan berskala nasional jangkauan oplahnya yaitu Saturday Evening Post (1821 – 1869) dan Youth Companion (1827 – 1929).
Pada seperempat akhir abad 19, penerbitan majalah mengalami peningkatan pasar. Masyarakat mendapat limpahan informasi dan hiburan. George Newness menyalurkan hobinya yang berawal dari kesukaannya menggunting paragraf-paragraf, pada 1881, dengan menerbitkan Tit-Bits yang terbit secara periodik, dan menyebar secara meluasmelintasi batas negara. Hal tersebut diikuti oleh the Strand yang menjadi populer karena kisah-kisah Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle.
Di AS, booming penerbitan majalah terjadi setelah ekspansi besar-besaran pasca-perang sipil, juga berkat meningkatnya kecepatan pengiriman majalah lewat pos (1879). Dengan tujuan meningkatkan sirkulasi, munculah majalah-majalah yang mematok harga tinggi. Akhirnya terjadi kesenjangan antara majalah mahal dengan majalah murah.
Peningkatan sirkulasi ini membawa efek awal tertentu bagi penerbitan majalah, yakni iklan. Hal tersebut menekan biaya produksi. Praktik ini kemudian menjadi pola umum bagi dunia penerbitan selanjutnya. Teknologi pun berperan dalam meningkatkan biaya produksi.
Iklan, pada awalnya ditentang berbagai majalah. Di Inggris, ketika pajak iklan diturunkan, pada 1853, berbagai pengelola majalah di antaranya memasang argumen “tugas dari suatu jurnal yang mandiri adalah melindungi sejauh mungkin untuk mudah percaya, meyakini, dan tak waspada pada kepintaran tersembunyi pemasang iklan.”
Di Amerika, hal yang sama terjadi. Harper’s misalnya, memasang aturan ketat untuk para pengiklan sampai tahun 1880-an. Reader’s Digest, dengan sirkulasi raksasanya baru mengizinkan iklan masuk pada 1955.
Akan tetapi, saat ini, iklan sudah menjadi tenaga industri media. Penerbitan majalah, sebagian besarnya, termasuk medium yang didorong oleh iklan.
Perkembangan kehidupan yang memola waktu masyarakat semakin cepat serta teknologi cetak abad 20 yang telah mengirimkan limpahan informasi telah mendorong tumbuhnya penerbitan majalah yang ringkas, padat, dan pendek sajiannya. Yang pertama melihat hal itu adalah majalah berita Amerika Time yang diterbitkan pada 1923 oleh Briton Hadden dan Henry Luce.
Time sebenarnya merupakan pekerjaan Pathfinder (1894 – 1954), yang secara mingguan menulis ulang berbagai berita untuk penduduk pedesaan. Ia menjiplak model majalah Digests dan majalah saku. Tetapi, Time adalah yang pertama menyajikan secara ringkas dan sistematis segala berita di seluruh dunia.
Pada 1928, Time menanjak secara pasti disebabkan gaya pemberitaan yang mampu menampilkan kritik berdasar dua nilai demokratis: menolak otoritas dan memuja kesuksesan. Sajian beritanya dikemas dalam kalimat-kalimat ringkas, teliti, dan akurat, serta referensial. Pada 1930, Time membangun organisasi pemberitaan tersendiri untuk memperkuat ketersediaan informasinya.
Mengikuti langkah Time, Business Week (berdiri pada 1929), United State News (1933), dan Newsweek (1933) muncul. Selain majalah berita, ada pula majalah berjenis majalah saku, majalah khusus, majalah ilmiah, majalah kebudayaan, majalah kesusastraan.
Sejak awal, majalah telah berupaya mengembangkan kekhususan dalam isi yang dikandungnya. Hal ini akhirnya berpengaruh kepada bagaimana tampilan majalah itu sendiri. Majalah berita berusaha memberikan kesan serius dalam tampilannya. Alhasil, majalah berita-pun terlihat tegas. Berbeda dengan majalah kesusastraan yang berusaha menampilkan keindahan khas sastrawan. Dan tentu saja berbeda dengan majalah pria dengan tampilannya yang penuh kesenangan ala pria.
Majalah pun menjadi sesuatu yang eksklusif dan dikhususkan bagi komunitas tertentu. Mahalnya harga majalah membuat tak semua orang dapat mengakses majalah. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmati majalah. Ibarat hotel bintang lima yang dibayar mahal oleh penginap, majalah memberikan fasilitas yang memadai bagi pembacanya. Lihat saja bagaimana kualitas kertas dan layout dari sebuah majalah.
Selain itu, majalah pun kerap memberikan interpretasinya terhadap suatu peristiwa. Hal ini tentu saja memberikan nilai plus dan kemudahan bagi pembaca. Pembaca mendapatkan sudut pandang baru. Meskipun berbau kepentingan tertentu, pembaca menjadi lebih kaya akan sudut pandang terhadap sebuah peristiwa daripada pembaca koran yang mesti susah payah menginterpretasikan sebuah peristiwa. Satu hal yang perlu diingat, pembaca harus tetap kritis terhadap apa yang diberitakan dalam sebuah majalah.
Terlepas dari hal tersebut, melalui tampilannya, majalah berusaha memberikan hiburan sekaligus informasi untuk memenuhi rasa lapar masyarakat akan informasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar